Jadi, gimana hidup lo? || H-4
Kemarin gue berniat buat nyelesain baca bukunya Henry Manampiring yaitu Filosofi Teras sebelum 14 Juni. Buku itu cukup memberikan gue pengaruh untuk tetap wajar dengan segala drama alam semesta. Walaupun tidak bisa dipungkiri kalau konten YouTube milik MLI juga membantu gue untuk tertawa lepas terhadap segala hal. Yaudah, enjoy aja. Kira-kira gitu.
Gue pikir nilai-nilai positif dari karya mereka udah bisa gue terapkan di kehidupan sehari-hari. Nyatanya overthinking masih beredar di kepala. Terlebih ya perihal masa depan gue di dunia perkuliahan melalui jalur SBM. Makanya mumpung sekarang gue masih waras, lebih baik gue mencerna hal-hal apa aja yang "mungkin" menimpa diri gue.
Okay, let's go!
Faktanya Apa? || H-3
Nangis di sekolah karena ngeliat temen-temen gue udah nemu titik tujuannya, gue marah banget. Marahnya disini adalah mempertanyakan keberadaan diri gue. Buat apa, Kwa? Sampai akhirnya gue memberanikan diri buat nentuin jurusan apa yang bakalan gue ambil. Setelah gue telaah, sebenernya ketidaktahuan gue berasa dari rasa takut buat nyimpulin satu jurusan. Gue takut kalau nantinya jurusan tersebut "enggak gue banget".
Gue gak mau self-sabotage kalau hasil akhir berwarna merah. Faktanya adalah gue sudah cukup berusaha dan kesimpulannya tidak berada dibawah kendali gue. Ada banyak banget faktornya, Kwa. Itu bukan urusan lo.
Hijau atau merah, itu bukan titik akhir di hidup gue. Tenangin diri dulu abis itu mari berbicara lagi apa yang selanjutnya harus ditempuh. Mana lagi medan perang yang bisa gue hadapi?
Faktanya hasil dari proses bukanlah aib. Itu juga bukan hal baru di dunia ini. Ribuan orang sedang atau pernah mengalami hal yang sama. Sama sekali gak ada yang spesial di sini. Peristiwa hidup berjalan silih berganti untuk menapaki orang yang berbeda di muka bumi. Jadi, tenang aja.
Apa yang Gue Takutkan? || H-2
Tentu saja respons orang lain terhadap diri gue. Waktu pengumuman snm, beberapa orang – kita udah lama gak ngobrol – ngechat gue tanpa basa-basi untuk nanyain hasil snm. Parahnya lagi ada satu orang pas gue kasih tau kalo hasilnya merah, dia bilang gapercaya dan gue dianggap lagi bohong. Maap banget tapi kan gue lagi gagal nih ya. Terus jawaban lo itu seolah-olah mewajibkan diri gue untuk terus-terusan sukses. Seolah-olah "jatah gagal" tuh gak ada di hidup gue. Seolah-olah kegagalan gue saat itu bukanlah sesuatu yang lumrah terjadi di dunia.
I actually fine with it tapi pikiran gue justru melayang-layang dari situ. Apa ya yang mereka pikiran pas tau kalo gue gagal? Apa kegagalan gue jadi bahan gosipan?
Yap, sebenarnya simpel aja. Dugaan mereka tidak mengurangi fakta yang ada di diri gue.
Jadi, kewajiban untuk memenuhi ekspektasi orang lain menjadi sesuatu yang cukup berat buat gue. Terlebih ya orang tua.
Mumpung gue masih waras. Gini, Kwa. Semua prosesnya udah terjadi dan hasil akhir berada di luar kendali gue termasuk bagaimana respons orang-orang. Hasil berupa gagal tidak sama sekali menurunkan level proses yang udah gue lakuin. Sisanya adalah refleksi diri. Hasil akhir tidak mengubah realitas kalau gue udah ngambil peran dalam proses ini.
Jadi, apa lagi?
Mentalku Sudah Goyah || 12.47
Emang ngomong tuh gampang banget asli. Mencerna sesuatu juga gampang. Rintangannya adalah berani buat mengamalkannya.
Mental gue udah goyah.
Tadi udah nangis pas gue bilang gabisa bantuin mama ngajarin bocil ngaji hari ini. Ibu gue tanya, kenapa emang? Mau nangis ya di kamar? And then gue malah nangis disitu. HAHAHAHA. Ditambah ibu gue mendramatiskan dengan bilang, sedih ya udah spend money so much buat bimbel terus begadang. I can't make the tears is not flow in front of her face. Tenang, kak. Katanya. Tapi kata tenang pun tidak membuat diri gue cukup tenang.
Dan.... Apa iya gue butuh untuk tenang? Mungkin saat ini emang gelisah yang gue butuhkan. Yaudah. Gapapa Kwa nangis aja. Jangan melarang satu pun emosi yang pengin keluar. Toh faktanya emosi itu netral, kan?
Please, Kwa. Keep on your controls. Inhale. Exhale. Everything was gonna be okay. Really.
Akhir Sesuatu = Awal Sesuatu || June 30
Terima kasih.
Gue cukup bangga dengan warna hijau. Namun, sejujurnya apa yang gue rasain ya biasa-biasa aja. Malah gue mikir, oh begini? Beberapa tetes air mata bangga mengalir, dilanjutkan dengan beberapa detik memeluk mama, gue merasa sangat beruntung.
Hari-hari selanjutnya, seperti saat ini, gue dihantui ketakunan gak bisa survive. Minimnya kemampuan gue dalam berbahasa Inggris membuat gue merasa minder. Ya, kalau dulu gue bisa skip kelas bahasa Inggris di BTA, setelah ini enggak, Kwa. Lo perlu menghadapinya.
Jadi, apakah rintangan akan berhenti disatu titik? Tentu tidak.
Terima kasih.


